fbpx

5 Lagu yang Mengubah Hidup Saya – Baca Sampai Habis, Nomor 5 Bikin Kaget!

“The purpose of art: to make the unconscious conscious.”

~ Richard Wagner

“The purpose of art is washing the dust of daily life off our souls.”

~ Pablo Picasso

“Where words fail, music speaks.”

~ย Hans Christian Andersen

Halo, selamat datang kembali di hakim-azizul.com, wahai Warganet yang berbahagia. Kembali lagi di sesi Intermezzo, selingan atau oase diantara luasnya padang gurun dunia teknologi data. ๐Ÿ™‚

Halah. Bercanda. I love data technology, and i enjoy write about that stuffs, jadi ya jangan dianggap padang gurun yang membosankan ya. Luas iya, teramat luas malah, tapi tidak garing kok, tenang.

Jika selingan sebelum-sebelumnya membahas tentang review film dari sudut pandang ilmu data, atau sudut pandang bisnis, atau sekedar pengalaman saya sendiri; yang jelas belum banyak dan masih harus belajar selamanya. Kali ini saya ingin berbagi tentang salah satu fase kehidupan saya, yaitu tepatnya pada awal 2016 (masa menjelang skripsi), ketika saya cukup intens membuat musik secara amatir.

Tools yang saya pakai saat itu adalah gitar listrik kesayangan saya Cort KX5 FR (saya beri nama Sibleki, panggilannya Bleki) dan efek gitarย Zoom G1Xon Multi Effect Processor (saya beri nama Fifi, karena aksen warna biru mudanya yang lembut dan imut bikin saya jadi ingat dengan salah satu tokoh komik One Piece favorit saya). Suara yang dihasilkan dari kedua alat tersebut direkam ke laptop saya, menggunakan kabel guitar jack to USB yang saya lupa merk atau spesifikasinya, tapi juga saya beri nama Yuesby). Sementara software yang saya gunakan untuk merekam dan mengolah suara adalah Audacity, open source, gratis, silakan download dan eksplor.

Penyebutan detil gear atau tools yang saya gunakan di sini tidak ada maksud untuk ngiklan apalagi pamer, namun maksudnya seperti artikel-artikel saya biasanya. Agar teman-teman dapat mencobanya, atau setidaknya dapat membayangkan dengan tools yang saya gunakan (dan cara saya menggunakannya), hasil seperti apa yang kira-kira bisa diraih. Oh iya, laptop saya belum diupgrade saat itu, jadi RAMnya masih 2 Gb, dan cukup menguji kesabaran saat itu, tapi overall tidak terlalu ngelag juga kok. ๐Ÿ™‚

 

Konsep

Ide atau konsep yang terpikirkan oleh saya saat itu, secara umum telah terwakili oleh tiga quote di atas. Terlepas dari apapun itu definisi seni atau musik yang dianggap umum ataupun yang formal digunakan, saat itu saya tidak pedulikan. Saya hanya membuat musik karena saya memang suka bermain gitar, dan impian saya untuk memiliki gitar listrik alhamdulillah tercapai di akhir 2013, dan impian saya lainnya yaitu memiliki multi effects untuk gitar listrik saya, juga tercapai pada akhir 2015.

Dengan ide umum seperti yang dijelaskan pada quote diatas, saya membuat beberapa karya suara, sebagai sebuah proses mengalami. Tidak ada catatan dalam bentuk apapun, tablatur or anything, hanya sempat ada catatan tentang modifikasi/kombinasi efek seperti apa yang saya gunakan, terutama ketika memodifikasi efek delay agar bisa membuat suara ambient, tapi catatan itupun hilang.

Tanpa catatan apapun, langsung bermain saja, improvisasi, langsung take (kadang 3 atau 5 kali ulang dulu, sebagai pemanasan), dan sangat minim editing (hanya noise removal saja). Semuanya spontan, fresh, present momen, dan alam bawah sadar sekali. Saya sampai tidak bisa mengulangi lagu yang saya buat untuk kedua kalinya, haha. ๐Ÿ™‚

Atau mungkin beberapa orang akan menggunakan kata “asal-asalan” atau “ngasal”.

Err, ok. Baik. Fair enough. Mungkin juga begitu.

 

Influences

Masa perkuliahan saya yang cukup panjang selama di ITB yaitu 6 tahun, merupakan masa di mana saya juga mencari jati diri saya dalam beragam hal. Karena kali ini kita sedang bahas musik, jadi saya batasi dulu pada lingkup musik. Tahun 2010-2016, saya cukup tertutup akan aliran musik, atau dengan kata lain yang saya dengar lagu/genrenya itu lagi dan itu lagi (mostly progressive metal dan progressive rock). Namun influence saya yang terbesar ketika membuat karya-karya suara pada saat itu, salah satunya adalah Flukeminimix (ada di spotify, silakan coba dengarkan). Flukeminimix adalah band instrumental asal Bandung, yang tidak sengaja saya tonton ketika bertugas di acara ulang tahun Observatorium Bosscha pada tahun 2013 (kalau tidak salah ingat). Untuk mengenal band ini lebih jauh, silakan baca ulasannya versi Grimloc Records.

Selain Flukeminimix, inspirasi utama saya lainnya yaitu King Crimson, terutama periode 1972-2000an awal, yang sangat kental dengan musik improvisasinya.

Selain kedua influence utama di atas, saya juga mendapat influence/ilham dari mana saja. Bisa dari film yang baru saya tonton, bisa dari hubungan percintaan saya, bisa dari perkuliahan saya, atau bahkan pertama kalinya gelombang gravitasi dapat terdeteksi oleh Detektor LIGO pada saat itu, anything. Apapun influencenya saya nikmati sebagai sebuah proses mengalami. Mengalami suatu pengalaman/peristiwa, pada rentang atau durasi waktu dan tempo yang spesifik. Bukankah musik memang seperti itu?

 

Eksekusi

Untuk mencapai kondisi seperti yang saya sebutkan pada bagian “Konsep”, “Influence”, juga 3 quotes yang mengawali artikel. Saya melakukan hal-hal berikut:

Automatism

Apakah anda pernah mendengar atau mempelajari tentang automatism in art atau surealist automatism, atau juga automatic writing? Ya, kurang lebih teknik demikianlah yang saya gunakan ketika membuat karya-karya suara tersebut. Dengan teknik ini, memungkinkan kita untuk mengurangi kadar interupsi alam sadar ketika berkarya, dan membiarkan porsi alam bawah sadar menjadi lebih dominan dalam mengambil alih proses berkarya.

Seperti saya ceritakan sebelumnya, tanpa perencanaan ataupun penulisan naskah/tablatur, langsung saja saya buat musiknya, untuk menghargai “present moment”, untuk menghargai kesegaran setiap nada yang muncul secara spontan dalam suatu waktu, diakibatkan oleh suatu peristiwa atau gagasan yang seringkali spontan juga.

Mengeksplor Scale

Dari pengalaman saya ketika melakukan metode automatism tersebut, setelah saya lakukan berulang-ulang, akhirnya saya temukanlah sebuah pola. Yaitu, apa yang disajikan oleh alam bawah sadar belum tentu merupakan hal yang murni baru. Ia bisa jadi merupakan repetisi nada-nada yang telah sering saya ulangi dan latih, potongan lagu-lagu yang pernah saya kuasai, ataupun gagasan-gagasan lama lainnya.

Sehingga untuk memperkaya proses berkarya ini, saya putuskan untuk tetap berlatih. Namun bukan berlatih memainkan lagu orang lain, ataupun berlatih untuk meng-compose lagu baru secara utuh. Tetapi saya berlatih untuk mengeksplor beragam tangga nada atau scales.

Saat pengerjaan proyek ini, scales yang saya latih dan saya jadikan kebiasaan diantaranya: Pentatonic Minor, Pentatonic Major, Harmonic Minor (Mohammedan Scale), Spanish Scale (Jewish Scale) atau 5th Mode dari Harmonic Minor, Blues Minor, Blues Major, Diminished Arpeggio, Balinese Scale (Tangga Nada Bali) dan Chromatic Scale.

Biasanya saya sediakan waktu luang khusus untuk mengeksplor scale tersebut, di luar waktu pembuatan maupun perekaman karya. Terkadang, saya pemanasan dulu sekitar 30 menit hingga 3 jam, untuk scale yang akan saya gunakan untuk membuat dan merekam karya suara saya saat itu.

Meditasi

Kenapa meditasi? Saya membutuhkan ketenangan serta pengalaman transendental ketika menciptakan karya musik saya saat itu. Dan yang terpenting, meditasi amat membantu saya untuk menghayati dan mengapresiasi “the power of now”, mengapresiasi setiap suara yang dibuat pada setiap momen yang baru.

Meditasi ini juga membantu saya dalam mengendalikan emosi ketika berkarya dan menghayati setiap nada yang dibuat.

Put it all together

Kombinasikan semuanya.

Apabila muncul suatu gagasan, suatu peristiwa yang ingin di rekam, atau ada yang mengusik pikiran/perasaan dan ingin diangkat menjadi karya. Saya gabungkan seluruh step di tasa, untuk menciptakan karya.

Beruntung, SoundCloud menyediakan thumbnails untuk cover album, sehingga memotivasi saya untuk menciptakan visual pendukung untuk karya-karya musik spontan saya tersebut. Karya visualnya pun dibuat dengan metode yang sama, dapat dilihat dari goresan pengeditannya yang berbentuk kolase digital, multiple exposure serta penerapan beragam filter pada stock photo yang saya anggap merepresentasikan gagasan/musik yang saya buat.

 

Penjudulan

Karena karyanya abstrak, spontan, dan cukup chaotic, maka untuk penjudulannya, saya terinspirasi dari Jackson Pollock ketika memberi judul pada karya-karyanya, yaitu hanya memberi nomor saja. Namun setelah lagu kesepuluh atau kesekianbelas, saya akhirnya merasa kalau itu garing dan hampa, sehingga saya mulai memberi tambahan pada judul, tidak cuma angka/nomor saja.

Lalu dapat dari manakah judul-judul tersebut? Dari mana saja. Bisa jadi sudah digagas sejak awal, namun bisa juga setelah musik itu lahir, baru saya sematkan nama/judul yang menurut saya tepat untuknya.

 

Future Projects

Terus terang, saya memang belum pernah mencoba membuat karya “alam bawah” sadar begini, yang dikombinasikan dengan attitude pengerjaan, pengonsepan, pendokumentasian, manajemen proyek, dll-nya dengan cara “alam sadar” yang disiplin. Ingin sekali saya meremaster karya-karya tersebut sehingga dapat lebih matang. Memiliki konsep, bahkan storyline yang kuat. Mungkin lirik kalau perlu?

Didukung juga dengan medium lain yang menunjang konsep tersebut. Tidak harus karya visual yang umum, bisa jadi saya menampilkan foto-foto atau hasil observasi Astronomi? Hasil pengolahan data, potongan code snippet? Atau malah hanya coretan pensil. Namun semuanya dengan kekokohan konsep yang matang, studi berdedikasi, dan disiplin.

Mungkin karya berikutnya dapat direplay, karena terdokumentasi dalam tablatur dengan format file .gp5, dengan full tablature untuk instrumen selain gitar juga, sehingga perkusinya bukan cuma metronome atau looper otomatis saja.

Seru kali ya? Mungkin jika betulan saya garap nantinya, seru juga untuk ditayangkan prosesnya di sini. ๐Ÿ™‚

 

Finally

Berikut ini saya lampirkan 5 lagu terbaik menurut saya (baca: 5 lagu yang saya rasa gak terlalu malu-maluin ketika didengar ulang maupun diingat kembali). Selamat menikmati! ๐Ÿ˜€

1. No. 20 – Dance (Part 1)


Kunjungi SoundCloudnya: https://soundcloud.com/muhammad-azizul-hakim-soundpainting/no-20-dance-part-i

Kunjungi juga aset gambarnya di DeviantArt saya: https://www.deviantart.com/hakim-azizul/art/Dance-Collage1-588463545

 

2. No. 26 – Ambient 1

Kunjungi SoundCloudnya: https://soundcloud.com/muhammad-azizul-hakim-soundpainting/no-26-ambient-1

Kunjungi juga aset gambarnya di DeviantArt saya:ย https://www.deviantart.com/hakim-azizul/art/Natural-Texture-1-588637166

 

3. No.1 – Good Night


Kunjungi SoundCloudnya:ย https://soundcloud.com/muhammad-azizul-hakim-soundpainting/no-1-good-night

Kunjungi juga aset gambarnya di DeviantArt saya:ย https://www.deviantart.com/hakim-azizul/art/Good-Night-592900400

 

4. No. 6 – Seven Minutes Meditation

Kunjungi SoundCloudnya:ย https://soundcloud.com/muhammad-azizul-hakim-soundpainting/no-6-seven-minutes-meditation

Kunjungi juga aset gambarnya di DeviantArt saya:ย https://www.deviantart.com/hakim-azizul/art/Seven-Minutes-Meditation-591412078

 

5. No. 19 – Temporary

Kunjungi SoundCloudnya:ย https://soundcloud.com/muhammad-azizul-hakim-soundpainting/no-19-temporary

Kunjungi juga aset gambarnya di DeviantArt saya:ย https://www.deviantart.com/hakim-azizul/art/Time-589553587

Follow and like us:

4 comments

  1. Hanamitchi

    Mantap Juragan , kalau lagu2 Kangen Band ga ada ya?

  2. FIRDA

    terimakasih reverensinya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Social media & sharing icons powered by UltimatelySocial