21 (2008) – A Movie Review from Data Science Perspective

21 movie review from data scientist perspective

“I had a 1590 on my SAT. I got a 44 on my MCATs. And I have a 4.0 GPA from MIT. I thought I had my life mapped out. But then I remembered what my Nonlinear Equations professor once told me, always account for variable change.”

~ Ben Campbell

Halo! Kembali lagi di sesi Intermezzo. Kali ini saya me-review film berjudul 21. Pertama kali saya mendengar tentang film ini ketika kelas satu SMA, tepat tahun 2008 saat itu, saat filmnya baru keluar sepertinya. Kakak sepupu saya yang usianya lebih tua enam tahun dari saya yang saat itu menceritakan tentang film ini. Yaitu, tentang sekelompok mahasiswa MIT yang berhasil mengalahkan para bandar Casino di Las Vegas, dengan memanfaatkan ilmu statistika (terispirasi dari kisah nyata MIT Blackjack Team,yang dikisahkan di buku best seller Bringing Down the House, oleh Ben Mezrich). Sayangnya saat itu saya belum diperbolehkan menontonnya, karena masih di bawah 17 tahun, hehehe.

Ok, back to the story. Film ini diawali dengan kisah seorang mahasisa Matematika MIT bernama Ben Campbell yang berhasil diterima di Harvard Medical School, namun tidak mampu membayar fee sebesar $300,000. Karena itu, Ben mengajukan Beasiswa Robinson (Robinson Scholarship) yang akan menanggung seluruh biaya tersebut. Namun, sebagai top grader dari MIT, dengan IPK 4 dan score MCAT 44, ternyata belum cukup untuk mendapatkan beasiswa tersebut. Direktur beasiswa hanya mau memberikan beasiswa untuk mahasiswa yg berhasil membuatnya terpukau (dazzle). Merasa tidak bisa melakukan apa-apa, Ben pergi, dan berusaha membuat esai untuk memukau direktur beasiswa, dengan pikiran hampa.

Data Scientist, Data Science, Machine Learning, Statistics, Data Science Indonesia, Data Analytics, Data Analysis, Data Analyst, Data, Astronomy, Astronomer, Science, Python, iPython, Jupyter Notebook, R, RStudio, Excel, Coding, Koding, Cara Mengolah Data, Mengolah Data, Olah Data, Programming, Pemrograman, Sains, Teknologi, Ilmu Data, Teknologi Informasi, Tech in Asia, Teknologi, Technology, Sains, Bisnis, Business, Business Analyst, Business Analysis, Social Media Mining, Movie Review, Muhammad Azizul Hakim, Aziz, Indonesia, ID, Singapore, Asia, Southeast Asia

Ilustrasi Monty Hall Problem. Sumber Gambar: Wikipedia.

Di MIT, Profesor Micky Rosa menantang Ben untuk memecahkan persoalan yang dikenal sebagai Monty Hall problem, dan Ben berhasil memecahkannya dengan sukses. Dari sinilah kisah seru dimulai. Gabungan dari suksesnya Ben dalam memecahkan Monty Hall problem, dan fakta bahwa Ben memperoleh nilai 97% untuk ujian mata kuliah Persamaan Non-Linier (Non-linear Equation) yang diajar oleh Profesor Micky Rosa, membuatnya diundang bergabung pada tim blackjack yang didirikan oleh Profesor Micky Rosa. Bersama anggota tim lainnya, yaitu Choi, Fisher, Jill, dan Kianna, mereka berhasil mengalahkan bandar.

Tim Blackjack MIT ini, berhasil mengalahkan kasino, dengan menggunakan metode card counting. Secara umum, card counting adalah strategi yang digunakan dalam permainan blackjack, untuk menebak/menentukan apakah kartu selanjutnya akan memberikan keuntungan kepada pemain, atau kepada bandar. Card counting memungkinkan pemain untuk bertaruh lebih besar, dengan meminimumkan risiko, karena dengan menghitung kartu, pemain dapat memperkirakan kapan kartu yang mereka peroleh akan menguntungkan mereka, dibanding dengan bandar.

Statistika yang mendasari beragam variasi dari card counting ini adalah, kartu bernilai tinggi (high card), terutama kartu as dan 10, lebih menguntungkan pemain, dibandingkan dengan bandar, sedangkan kartu bernilai kecil (low cards) seperti 3, 4, atau 6, dan terutama 5, lebih menguntungkan bandar.

Follow and like us:

3 tanggapan pada “21 (2008) – A Movie Review from Data Science Perspective”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *